Kamis, 14 April 2011

Ep #1: ‘I Dare You’ (Tantangan)


Tayang: Jumat, 18 Februari 2011 pkl. 19.15 wib
Cerita di awali saat Putri (Natasha Rizki) dalam perjalanan ke sekolah dengan diantar oleh ayahnya, Lukman (Derry Drajat) yang seorang tukang pos. Saat di lampu merah, tiba-tiba ayah Putri dilempar dengan kaleng minuman kosong oleh seseorang yang ada dalam mobil di sebelahnya. Putri tak terima dan ia mencoba bicara pada orang yang melempar kaleng kosong tersebut. Ternyata orang itu adalah Rafael, cowok kaya yang sombong yang merasa tak bersalah dengan apa yang diperbuatnya. Kontan Putri protes dan meminta Rafael untuk minta maaf. Namun karena lampu keburu hijau, akhirnya Putri pun tak berhasil menyuruh Rafael minta maaf.
Saat Putri mengikuti ospek, tiba-tiba sekelompok cowok-cowok keren (Rafael, Morgan, Bisma, Rangga, Ilham, Reza dan Dicky) yang dikenal sebagai SMASH datang dan mensabotase acara tersebut. Putri terkejut melihat Rafael yang ternyata adalah leader dari SMASH. Guntur (Ricky Komo), teman baru Putri menjelaskan kalau SMASH adalah boyband yang lagi naik daun sekaligus pemilik dari sekolah mereka. Putri tak pernah tau apa-apa soal SMASH. Putri dan Guntur pun asik bercanda soal nama SMASH saat Rafael sedang berbicara. Rafael lalu menegur Putri dan Guntur sehingga keduanya mendapat hukuman.
Putri pun protes dengan tindakan Rafael yang sok senioritas terhadap juniornya. Rafael pun kesal pada Putri. Zee (Zaneta Georgina), salah satu senior di sana, bilang ke Rafael kalau Putri adalah murid yang mendapat beasiswa untuk sekolah di sana. Rafael pun mengolok-olok Putri dan meminta Putri untuk tidak macam-macam dengannya.
Saat pulang sekolah, Putri yang kesal terhadap anak-anak SMASH malah melihat gambar SMASH ada di mana-mana. Di dalam bajaj, di tembok jalanan, di majalah, di TV, bahkan ibu Putri pun menunjukkan kaosnya yang baru yang bergambar SMASH. Hal ini membuat Putri makin kesal terhadap SMASH.
Kekesalan Rafael juga terbawa sampai rumah. Ia bahkan memecat 3 pelayan di rumahnya hanya karena bad mood akibat Putri. Saat berkumpul dengan anggota SMASH yang lain, Rafael menyatakan kalau ia ingin memberi pelajaran pada Putri. Namun Bisma dan anak SMASH lainnya malah menantang Rafael untuk memacari Putri.
Bisma: Gimana kalo lo aja Raf yang pacarin dia?! Kalo lo yang pacarin dia kan, seluruh In-do-ne-sia bakal heboh tuh… Hits man! I dare you Raf, I dare you…
Rafael tadinya menolak. Namun karena Morgan menganggapnya pengecut, Rafael akhirnya menerima tantangan itu dengan mempertaruhkan mobilnya.
Segala usaha dilakukan Rafael untuk menarik perhatian Putri demi memenangkan tantangan tersebut. Dari yang minta maaf terang-terangan, sampai memberi perhatian yang berlebih. Namun tampaknya Putri susah sekali untuk ditaklukkan. Rafael pantang menyerah. Hingga pada saat Putri digoda beberapa preman di jalan, Rafael pun datang untuk menyelamatkan Putri hingga ia rela dipukuli preman-preman tersebut. Putri kasihan pada Rafael dan akhirnya memaafkan Rafael. Mereka pun sepakat menjadi teman. Sayangnya Putri tak tau kalau preman-preman tersebut adalah suruhan Rafael.
Kedekatan Putri dan Rafael makin intens, apalagi Rafael berani membela Putri saat Putri sedang dilabrak oleh Zee. Rafael bahkan bersedia mengantar Putri yang hendak pergi ke toko buku.
Saat di toko buku, tak sengaja Rafael sedang memegang buku The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway yang kebetulan buku favorite Putri. Rafael mengaku kalau dia juga suka dengan buku tersebut demi membuat Putri terkesan. Saat hendak pulang, tiba-tiba Rafael mengajak Putri untuk makan malam. Putri tersanjung dan akhirnya ia menerima tawaran tersebut.  Anak-anak SMASH yang mengetahui hal ini menduga kalau Rafael kemungkinan bakal menang dalam taruhan tersebut. Morgan pun terancam kalah.
Hingga saat makan malam tiba, sebelum mereka berangkat, Putri memberi buku The Old Man and The Sea pada Rafael. Namun tanpa sepengetahuan Putri, buku itu dibuang begitu saja oleh Rafael. Diam-diam seseorang memungut buku itu dari tong sampah. Rafael lalu memberi Putri sebuah gaun dan meminta Putri untuk mengenakannya saat malam inagurasi nanti. Dan setelah itu, Rafael pun menyatakan cintanya dengan memberi kejutan bertuliskan I Heart You di dinding tempat makan malam mereka. Putri pun berbunga-bunga.
Saat malam inagurasi, setelah SMASH tampil dengan lagu andalan mereka ‘I Heart You’, lalu giliran Putri yang tampil untuk bernyanyi di panggung. Lagu itu ia persembahkan untuk kekasihnya yaitu Rafael. Setelah Putri menyanyikan ‘Tentang Kamu’ dari Bungan Citra Lestari, tiba-tiba Putri melihat Bisma yang menyerahkan kunci mobil pada Rafael. Putri bingung. Zee lalu datang dan memberi tau Putri kalau sebenarnya Rafael cuma main-main terhadap cinta Putri. Putri hanya dijadikan bahan taruhan oleh anak-anak SMASH. Mendengar hal ini Putri kecewa dan segera pergi meninggalkan pesta.
Putri menangis di sebuah taman air mancur dan menyesali kebodohannya untuk mempercayai Rafael begitu saja. Namun tiba-tiba seseorang datang memberikan buku The Old Man and The Sea yang pernah dibuang Rafael. Ternyata orang itu adalah Morgan.

Rabu, 13 April 2011

Cinta Lama Belum Kelar

“Tttteeeeeeetttttt….” bel tanda masuk berbunyi, gue percepat langkah biar gak telat masuk kelas, soalnya guru kimia tuh galak banget! akhirnya sampe juga didepan kelas, untung Bu Sita belum masuk. Langsung deh gue duduk dan mengatur nafas gue yang masih cenat cenut inii.
“Kenapa si lo gak bisa dateng cepetan dikit? Pasti deh pas bel masuk lo baru sampe di sekolah” ceramah Rangga temen bangku gue,
“Hiiss! lo kaya blum tau gue ajaa, gue kan paling susah bangun pagii” ketus gue sambil ngluarin buku kimia dari tas.
” Duuhh .. lo tu cewe miy , harus latihan bangun pa …” belum slese tu si Rangga ngomel, gue tutup tuh mulut sama tisuu. Spontan dia muntahin tu tisu ke lantai. Haha.
“Sssstttttt .. Bu Sita dateng tuh!” kata Dicky yang duduk di bangku seberang . Dengan sigap semua anak – anak dalem kelas langsung duduk rapii dan pasang muka tegang *busseeettt kaya monster aja tuh guru.
“Selamat pagi anak-anak” sapa Bu Sita
“Pagii buuuu.” bales gue dan temen-temen.
Eh tapi pagi ini Bu Sita gak sendiri, bareng sama seorang cowok , dia anak baru deh kayaknya, tapi tapii .. Tunggu dulu dehh, dia kannn Bismaa! Iya dia Bisma mantan gue waktu SMP, cinta monyet gituu. ya ampuunn keren banget dia sekarangg. Waktu dia jalan ke bangku di seberang gue lebih tepatnya bareng si dicky, dia sempet nglirik ke gue, ya ampuunn .. Cenat cenut deh.
. . . . . . . . .
“Eh miy, gue kebelet nii, lo duluan aja ya ke kantinnya, pesenin punya gue juga, uda gak tahan nii, oke?” Ucap Rangga waktu kita lagi jalan ke kantin.
“iye dehh” jawab gue singkat.
Mana ni si Rangga, pipis apa tidur si tu anak, lama bener deh ah! Keburu melar ni mienya, ckck. Gerutu gue dalam hati. Tanpa sadar pikiran gue melayang ke masa lalu, waktu gue masih pacaran sama Bisma, dia bener-bener baik dulu. Tapi sekarang kog beda yaa? cuek banget, buktinya udah 1 minggu kita satu kelas, belum pernah dia nyapa gue. jangankan nyapa natap gue aja gak pernah, bikin kesel! lamunan gue terhenti waktu Bisma jalan didepan gue, nyapa gak ya ?? Dan ternyataaa …. Dengan santainya dia nglewatin meja gue. huff! gue lanjutin makan sambil sesekali curi pandang gitu ke Bisma yang duduk di meja paling pojok.
“Heyy! ngliatin siapa yaa? hayoooo!” Hemm, ni si pipi chuby akhirnya dateng juga,
“Dari mana aja si lo? lama amaatt! melar tu mienya!” jawab gue.
“Sorry sorry , perut gue melilit , semalem ngemil kebanyakan si” gak heran deh dia kayak gitu, emang hobbynya ngemil si, liat aja tuh pipinyaa, kaya bakpao. Mata gue tertuju ke bisma lagi, tapi kali ini gue liat ada yang beda, raut mukanya sayu, kenapa ya dia? Jadi penasaran nih.
. . . . . . . . .
I STILL LOVING YOU , BISMA KARISMA .
Gue tutup buku diary gue, dan berbaring di tempat tidur sambil membuka album foto gue waktu SMP, masih ada foto gue sama bisma waktu pacaran, lucu banget ..
“Ammiiyy !” Panggil dicky di luar rumah. Akhirnya mereka dateng juga. Emang tadi gue nyuruh dicky dan rangga buat ke rumah gue, niatnya si mau ngomongin soal Bisma. Sekarang kita bertiga ada di teras belakang rumah gue .
“Jadi kenapa lo nyuruh kita berdua kesini miy ?” tanya Dicky .
“Gue .. Gue mau tanya sama lo Dick, si Bisma suka cerita-cerita gitu gak ke lo?” jawab gue ragu.
“Wah wah wah, tumben lo nanyain si bisma?” sambung Rangga .
“Gak gue pengen tau aja, kayaknya kog diem banget tu anak” kata gue.
“ehmm, kemaren si dia cerita ke gue kalo papah mamahnya meninggal 1minggu lalu gara-gara kecelakaan, sekarang adeknya si Anas dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan maut itu, ya mungkin dia diem gara-gara itu Miy” cerita Dicky.
“Ohh, kasian diaa” ucap Rangga. Tiba-tiba pipi gue basah kena air mata.
“Lho kog lo nangis sih?” tanya Dicky .
“Se..sebenernya Bisma itu mantan gue pas SMP” ..
“haahh?? Mantan lo?” kompak amat mereka inii, bikin gendang telinga gue hampir pecah. Ckck.
Gue ceritain semua ke mereka berdua dari awal sampe sekarang ini. Mereka ndengerin cerita gue kayak anak kecil lagi di dongengin sama emaknya. Hihi .
. . . . . . . .
Hari ini pulang sekolah kita bertiga bakal ke rumah sakit cahaya, Soalnya gue nyuruh Dicky buat nanyain ke Bisma di rawat dimana tuh adeknya. Gue pengen liat kondisi Anas.
“Yuk, berangkat!” kata Rangga. Kita ke sana pake mobil Rangga. Di jalan gue diem aja. Gue mikir kog segitu beratnya cobaan yang harus di hadapi Bisma. Andai gue masih pacar dia, gue bakal selalu ada di samping dia. Lagi-lagi air mata gue jatuh .
“Miy, lo gak papa kan?” tanya Rangga.
“Gak papa kog, udah lo fokus aja nyetirnya” jawab gue.
“Udah Miy, gak usah nangis gitu” sambung Dicky.
Sampe juga di rumah sakit cahaya, gue apus air mata gue. Rangga nanya ke bagian informasi dimana ruangan Anas, gue sama Dicky nunggu di sebelah pintu utama. Setelah dapet info soal ruangan Anas, kita langsung beranjak dari tempat itu. Gue ketok pintu bangsal dimana anas di rawat. Bisma terkejut dengan kedatangan kita.
“Aa..aamiy ?” ucap Bisma.
“Iya ni gue” ..
Di ruangan itu Anas terbaring coma di tempat tidur. Di situlah Bisma mulai berbagi cerita suka ataupun duka sama gue. Hampir tiap hari sepulang sekolah gue nemenin dia nungguin adeknya di rumah sakit. Walaupun gue deket lagi sama dia, gue belum pernah bilang sekalipun tentang perasaan gue ini. Let it flow dehh :)
. . . . . . . .
2 bulan kemudian ..
“Amiiyy!! Ayo dong cepetann, keburu dimulai acaranya” teriak Rangga di ruang tamu.
“Iyaa rewell” jawab gue. Yap ! Hari ini gue mau dateng ke acara pesta kecil-kecilan dirumah Bisma buat ngrayain kesembuhan Anas. Dijalan hati gue cenatcenut *lebay banget gue.
Sampe juga di rumah Bisma. Wahh, udah rame nih,
“Amiy! Rangga! siniihh!” panggil Dicky dari kejauhan.
“Hallo semuanyaaa!!” MC mulai membuka acara ini. Tiba saatnya buat Anas ngasih sambutan. Di tengah sambutan itu gue denger nama gue sebut sama dia, kira-kira gini deh bunyinya “……gue juga berterima kasih buat kak Amiy, yang udah mau nemenin kak Bisma kakak tersayang gue ngrawat gue waktu sakit”. Ya ampuunn tau dari mana dia tentang gue? dia kan baru keluar dari rumah sakit kemaren dan gue gak bisa ikut bisma njemput dia. Cenatcenut deh hati gue. Di tengah acara Anas ndeketin gue
“kakak yang namanya kak Amiy ya ?” tanya dia.
“I..iya dek, salam kenal ya” jawab gue sumringah. “Kak Bisma cerita banyak lho tentang kakak, pasti kakak berarti banget deh buat dia” jelas Anas. Sumpaahh, ngedenger itu serasa terbang gue.
“Ahh, bisa aja kamu dek, gak kog, kita cuma temen” malu gue! eh tapi tapi, mana nhi si Bisma? Kog udah pertengahan acara gue belum liat dia. Ahh sibuk nyambut tamu kali dia. Si Rangga dan Dicky asyik aja makan, dasarr gembull!
“Ehmm, selamat malam semuanya” suara itu! ya suara bisma, suara yang selama ini bikin cenatcenut hati gue,
“Maaf gue ganggu acara ini, disini gue cuma mau berterima kasih buat seorang cewe yang selalu ada buat gue, dia mantan gue waktu SMP (oh my God! serasa berhenti deh detak jantung gue denger itu), jujur dalam hati gue, gue masih cinta sama dia, apa lagi semenjak dia nemenin gue ngrawat adek gue di rumah sakit, dia jadi semangat hidup gue” musik mellow mulai di puter buat ngiringin Bisma , semua orang diem dan menikmati suasana itu.
“Thanks for Amiy” lanjut Bisma, dia turun dari panggung kecil dan gandeng tangan gue buat ikut naik ke panggung, sumpahh gue maluu bangett. Sorak tepuk tangan menggema di pesta itu.
“I heart you” kata Bisma sambil menggenggam tangan gue, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit gue, seneng campur malu deh rasanyaa.
“Mau gak jadi pacar gue … lagi?” gilaaakkk! Dia nembak gue di depan umum, berasa jadi cewek beruntung di malam itu. Gue pura-pura mikir, padahal mau banget gue! Tapi jaim dikit deh, haha. Dan akhirnya kata-kata
“Iya gue mau” keluar dari mulut gue.
“Emang dasar Cinta Lama Belum Kelar!!” teriak Rangga dan Dicky , Anas tersenyum .
Malam itu jadi malam yang paling indah di hidup gue. Semoga cinta ini gak akan pernah mati, I Heart You Bisma Karisma!

From : Prasetyaning Budi Utami

DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT

Selasa, 12 April 2011

Prince Cafe

“Permisi !” Sapa seseorang diiringi decitan pintu cafe. Selang berapa detik muncul wajah seorang gadis dengan ekspresi takutnya.
“Bagus. Hari ini kamu datang terlalu pagi lagi Zizi !” Jelas saja itu sindiran bukan sebuah sambutan dengan konten memuji. Dan, sambutan yang lebih tepatnya sindiran itu hanya di respon dengan cengiran dari sang empunya nama ,Zizi. Sang pengikrar sindiran itupun melirik jam tangannya, 08.14 sudah lewat 14 menit dari jam seharusnya gadis itu datang.
“ SATU MENIT DARI SEKARANG, KALAU KAU TIDAK SIAP DENGAN BAJU KERJAMU KAU TIDAK DAPAT MAKAN SIANG !” Teriaknya pada gadis yang diketahui namanya Zizi itu di iringi kesangaran yang terpancar dari si Diktator-yang-suka-marah. Itu lah menurut Zizi.
“Ah, tidak mungkin Kak. Satu menit tidak mungkin cukup.” Pinta Zizi dengan nada memelas, dan tanpa nada berdosa.
“LAKUKAN ATAU TIDAK SAMA SEKALI !” Kali ini dibalas dengan nada berurat dari tenggorokan. Tangannya pun ikut mencerca gadis itu dengan memegang sebuah buku nota yang siap dilemparkan ke gadis itu.
“Hyaa ! Ampun, baik. Satu menit!” Decaknya pasrah, menyerah karena takut dan terkejut.
“Sekarang 30 detik !” Yap, waktu sudah banyak berlalu karena argument Zizi sendiri yang membuat si Diktator tambah geram.
“APA ? Kyaa !” Celosnya sambil berlari pergi. Bag Big Bug !
“Kak Rafael, kak Rafael, dia hanya terlambat sebentar udah kamu marahin sampai segitunya.” Ujar seorang bernama Morgan sambil menepuk bahu sang Diktator yang memiliki nama asli Rafael itu.
“Kalau dia melakukannya terus, sudah berapa banyak waktu yang dia buang. Hah ?!” Gumamnya sambil memandang Morgan curiga.
“Kau membelanya ?” Tanya Rafael dengan lirikan curiga.
“Ah, tidak.” Desah Morgan lalu meninggalkan Rafael ke dapur cafe.
Tiba-tiba Zizi muncul dari ruang ganti sambil berujar “AKU SIAP !”
“Kau tidak dapat makan siang.” Dengan santainya Rafael berkata dan pergi melanjutkan aktifitasnya di kasir.
“Huft !” Desis Zizi. Dia terlambat 3 menit lebih dari waktu seharusnya. Dia tidak memikirkannya makan siang lagi, dan mulai bekerja mengelap semua meja dan menata semua peralatan dapur.
^shalina^
Pukul 9.00. Waktunya Cafe Rakiramob atau biasa disebut cafe Angel karena pelayan sekaligus pemiliknya yang terdiri dari 5 bidadari tampan, untuk menyambut tamunya.
Tidak lama, masuklah segerombolan mahasiswi masuk ke cafe itu dan langsung disambut senyuman hangat dari Bisma salah satu dari 5 angel tadi.
“Selamat datang!” Ujarnya ramah sambil mempersilahkan masuk.
“Aah. Dia sangat manis !” Desah seorang mahasiswi kegirangan karena berhasil melihat  senyum si cute Bisma.
“Aku sudah bilang, di sini pelayannya tampan-tampan.” Balas seorang mahasiswi lainnya yang di setujui teman-temannya dengan mengangguk dan segera duduk.
“Permisi, mau pesan apa?” Ucap Zizi dengan ramah kepada segerombolan mahasiswa itu.
“Katanya di sini pelayannya tampan-tampan, tapi kok ada itik buruk rupanya sih!” Sindir seseorang kepada teman-temannya yang memiliki pemikiran sama mengenai Zizi. Ah, kesal. Pasti. Itulah yang dirasakan Zizi.
“Ehem. Bisa jawab pertanyaan saya mbak ? Kalian mau pesan apa ?” Gerah Zizi kepada mahasiswi-mahasiswi itu.
“Tidak ramah sama sekali kau ini!” Cerca seseorang bername tag Putri Ranita, seorang mahasiswi ekonomi sepertinya.
“Baiklah, maaf.” Sergah Zizi sambil tersenyum dan sedikit membungkuk.
“Kami tidak mau dilayani itik buruk rupa yang tidak ramah seperti kau! Aku mau dia yang melayani!” Bentak mahasiswi tadi yang sepertinya adalah ketua geng kelompok itu, sambil menunjuk Rafael yang terus memperhatikan Zizi dan mahasiswi itu. Rafaelpun terkejut.
“Aku mau dia !” Salah seorang mahasiswi lainnya menunjuk Morgan yang sedang memegang kotak sampah.
“Dia !” Seru yang lainnya menunjuk Bisma yang sedang mengelap kaca pintu.
“Dia imut.” Tunjuk seorang lainnya lagi kepada Rangga.
“Hey ! Siapa namamu ?” Tanya salah seorang mahasiswi lainnya juga pada Dicky yang sedang menyiapkan bahan makanan di dapur.
Gleg. Seperti ada biji salak yang menyumbat leher Zizi. Dia terkejut, kemudian terpaku.
Kelima lelaki tampan yang tadi disebut satu persatu datang mendekat.
“Kau di dapur saja.” Bisik Rafael pelan kepada Zizi, dan dibalas sebuah anggukan dari Zizi.
^shalina^
Tidak berapa lama tamu-tamu terus berdatangan, dan hampir semuanya adalah perempuan. Zizi sedikit kesal dengan suasana ini. Karena bekerja dengan setengah hati, dia melakukan suatu kesalahan. Sikutnya tidak sengaja menyenggol gelas yang akan di cuci.
PRAANG !
Zizi terkejut dan panik. Semua mata memandang ke arah dapur yang terlihat dari sebuah jendela lebar yang menghubungkan dapur dengan ruang utama.
Rafael tersenyum meminta maaf atas kegaduhan tadi kepada seluruh pelanggannya dan segera ke dapur.
“KAU INI CEROBOH SEKALI !” geram Rafael kepada Zizi yang masih diam keringat dingin.
“CEPAT BERSIHKAN DAN KEMBALI BEKERJA!” Lanjut Rafael menyadarkan Zizi dari keterdiamannya. Dan kembali ke aktifitasnya semula.
“Kamu baik-baik aja Zizi ?” Morgan muncul di ambang pintu dapur mencemaskan Zizi.
“Ah, tidak apa aku ceroboh sekali. Maafkan aku ya.” Jawab Zizi menatap Morgan sebentar dan kembali membersihkan pecahan gelas kaca yang berhamburan dengan brutalnya.
“Ah, tidak apa. Perlu kubantu ?” Tawar Morgan memperpanjang pembicaraan.
“Tidak perlu. Kau harus ke depan lagi, di sana masih banyak pelanggan.” Tolak Zizi mentah-mentah, sebenarnya Zizi sudah tahu gelagat Morgan padanya sejak dulu, maka dia selalu menghindari Morgan.
“AWW !” Tiba-tiba sebuah pecahan kaca melukai jari Zizi, disaat yang bersamaan dengan Morgan yang  hendak meninggalkankan jejaknya.
“Kau kenapa? Aah ! Tanganmu berdarah! Kamu duduk di bangku itu dulu, aku akan segera kembali.” Celosnya dan langsung pergi.
Tak berapa lama Morgan datang dengan kotak P3Knya.
“Ini hanya luka kecil ,Morgan. Tidak usah berlebihan deh!” Zizi mengibaskan tangan Morgan pelan dari tangannya.
“Tidak, ini bisa membuat jarimu infeksi. Harus segera diobati.” Bantah Morgan, membuat Zizi pasrah saja. Setelah selesai, Morgan menyuruh Zizi untuk tetap duduk dan Morganlah yang membersihkan semua pecahan tadi.
Morgan duduk di samping Zizi, bermaksud berbincang dengannya.
“Kau tidak kembali ke depan? Aku juga harus kembali bekerja.” Ujar Zizi, berharap Morgan segera pergi.
“Di depan para tamu sedang menikmati hidangannya masih-masing. Jadi aku tidak bisa mengganggu mereka.” Morgan berujar, mempertahankan suasana di dapur berdua dengan Zizi, yang sebenarnya sangat gabah dengan keberadaan Morgan yang selalu mendekatinya.
“Tapi, bukan berarti kamu bisa menggangguku kan?” Zizi mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih tepat menjadi sebuah pernyataan itu. Dan hanya di respon dengan tawaan dari Morgan sambil mengusap poni Zizi dengan kasar.
“Haa! Poniku berantakan! Kau jahat !” Geram Zizi sambil memukul Morgan yang tidak berusaha lari namun malah tertawa. Dan membuat pemandangan menggeramkan bagi seorang Rafael yang tidak sengaja melihat saat tengah mencari Morgan.
“Sudah bermainnya ? Morgan kau harus ke depan. Dan, KAU ZIZI CEPAT SIAPKAN PESANAN INI ! Kalian ini terlalu banyak bermain-main!” Ucapan dan kemarahan Rafael mengejutkan Morgan terlebih lagi untuk Zizi yang langsung merasa bersalah.
“Dia sangat emosional.” Bisik Morgan pada Zizi dan melengos pergi. Zizi meneguk air ludahnya, membasahi tenggorokkannya yang tiba-tiba saja serat. Kemudian Zizi menunduk, takut menatap mata tajam laki-laki itu.
“Kau mengecewakan.” Singkat dan pelan yang diucapkan Rafael, namun membuat Zizi kembali menelan air ludahnya, tenggorokannya terbakar. Rafael meninggalkan Zizi begitu saja.
^shalina^
Sekarang jam 2 siang waktunya makan, dan Zizi benar-benar tidak mendapat makan siangnya dia memilih duduk di dapur. Aah, tapi dia tidak lapar. Dia masih mengkhawatirkan pikiran Rafael tadi saat melihatnya dengan Morgan. Kenapa? Ada alasannya pasti.
“Ayo makan!” Rafael muncul dan menarik tangan Zizi. “Bukannya aku tidak mendapat jatah makan, siang ini ?” Zizi bingung, jelas saja.
“Aku yang akan memberimu makan, bukan sebagai atasanmu tapi sebagai kekasihmu.” Desahnya pelan namun jelas. Membuat pipi Zizi merona, lalu mengerutkan dahi mengingat masalahnya.
“Bagaimana jika yang lain tahu?” Bisiknya masih mengikuti gerak-gerik Rafael yang menggenggam tangannya. “Lihat ! Itu jawabannya.” Tunjuk Rafael ke sudut cafe.
Zizi tertawa geli melihat itu. Morgan, Dicky, Bisma dan Rangga sedang di gerubungi gadis-gadis yang meminta mereka makan siang bersama. Rangga dan Bisma terlihat sangat menikmati, dan terus tebar pesona. Dicky hanya memasang tampang cengoknya, sedangkan Morgan terlihat sangat risih.
“Ayo! Kita tidak punya banyak waktu.” Rafael mengencangkan genggamannya dan kembali menyelinap. Aah ! Dia sangat kejam, tapi hebat. Pikir Zizi, sambil tersenyum sendiri.
^shalina^
“Kamu seperti anak kecil.” Rafael mendesis dan tangannya bergerak mengambil tissue lalu mengelap sudut bibir Zizi yang dikotori saus pasta.
“Kamu orang aneh, kak.” Cela Zizi dengan tampang polosnya.
“APA KATAMU ?” Decak Rafael, tangannya mulai menjauhi wajah Zizi.
“Iya, kamu aneh. Sering banget marah-marah ngga jelas kaya Diktator oh, Monster tepatnya.” “HEH ?!” Geram Rafael, siap menjitak dahi Zizi.
“Tapi tiba-tiba bisa berubah jadi pangeran.” Kata-kata Zizi meredamkan kegeraman Rafael dan berubah menjadi kegemasan.
“Kita seperti backstreet. Apa kita sedang backstreet kak ?” Pertanyaan Zizi sukses membuat Rafael tersedak. Zizi menyodorkan segelas air putih kepada Rafael. Rafael menarik tangan Zizi yang menggenggam gelas. Dan meneguk isi gelas itu.
“Kyaa! Ambil gelasnya aja, tanganku ngga perlu ikutan ditarik!” Seru Zizi terkejut. “Rasanya beda!” Jawab Rafael singkat dan kembali meneguk isi gelasnya sampai titik penghabisan. Menaruh tangan Zizi beserta gelasnya ke meja dan melanjutkan makannya.
Zizi terus menatap Rafael tidak berkedip, menunggu jawabannya. “Cepat lanjutkan makanmu! Nanti sore kamu kuliahkan? Perutmu harus terisi.” Rafael menyadarkan Zizi.
“Jawab.” Zizi menatap Rafael dalam. “Kupikir kamu sudah tau jawabannya.” Rafael buka mulut, dan balik menatap mata cokat Zizi.
“Kenapa?” Zizi jauh lebih penasaran lagi dengan mata Rafael. “Aku hanya belum siap.”
“Tidak. Kau malu.” Ucap Zizi singkat lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Rafael yang terpaku.
“ZIZI ! TUNGGU !” Rafael berteriak berdiri, meninggalkan beberapa lembar uang dan mengejar Zizi yang terus berlari. Sialnya acar kejar-kejaran itu tidak berakhir sampai mereka berada di depan cafe. Zizi masuk ke dalam tanpa bersua lagi, dan hanya ditatap bingung keempat lelaki yang sedang terduduk lelah meladeni gadis-gadis agresif tadi. Dan Rafael, masuk menyusul. Menambah kecurigaan di keempat pasang mata tadi.
“Aku baru mengantar pesanan ke seberang sana!” Jawab Rafael tenang, persetan dengan pikirannya yang jauh dari damai.
^shalina^
Begitu sampai di cafe tadi, Zizi langsung masuk ke dapur menyelesaikan semua pekerjaannya dan berpamitan kepada orang cafe untuk pamit pergi kuliah.
“Biar kuantar !” Tiba-tiba Morgan menyahut.
“Biar aku saja, ada bahan yang harus kubeli, biar sekalian.” Ujar Rafael, di ikuti anggukan dari Morgan.
“Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.” Zizi mencelos keluar cafe. “Aku pergi dulu, nanti aku kembali.” Ucap Rafael menyerbu keempat temannya dan berlari keluar cafe menyusul Zizi.
Rafael berhasil menggaet tangan Zizi yang memberontak dan menariknya ke arah mobil Rafael. Menyuruhnya masuk dengan paksa. Dan segera masuk ke kursi pengemudi dan menjalankan mobilnya.
“Jangan marah. Kamu akan tahu alasannya nanti, bukan sekarang.” Decak Rafael memecah keheningan mobil itu.
“Bahkan sampai aku matipun tidak apa. Aku ngga mau tau.” Balas Zizi datar sembari terus memandang jalanan. Kembali hening, Rafael tidak dapat menjawab.
Mereka sampai di kampus Zizi. Zizi bergerak melepas safebelt, namun tangannya di hentikan Rafael dan Rafael lah yang melepaskannya. Dan saat Zizi akan membuka pintu mobil itu tangannya kembali ditahan oleh Rafael. Rafael mencium kening Zizi tulus, lalu menatap mata Zizi yang beku namun berubah meleleh dengan perlakuan Rafael tadi.
“Maaf. Jangan marah lagi.” Ucap Rafael diiringi senyum mematikannya sambil mengusap rambut Zizi pelan. Zizi diam tidak menjawab, dan segera keluar dari pintu mobil. Jantungnya berdetak cepat.
^shalina^
“Kak! Kiriman lagi nih, kamu hebat kak bisa punya penggemar.” Tutur Dicky dengan nada iri. Sedangkan yang diajak bicara hanya menatap buket bunga kiriman itu dengan heran. Sedangkan gadis dibalik jendela dapur yang melihat itu, menatap dengan panas. Dan begitu Rafael melirik kearahnya, gadis itu hanya mengalihkan pandangannya.
Sudah beberapa hari ini, Rafael selalu mendapat kiriman bunga dan coklat dari seorang penggemar yang mengaku bernama Sarah. Dan hal itu sangat membuat Zizi geram.
^shalina^
Beberapa minggu ini Zizi, mengambil jam kerja di cafe itu mulai sore hari sampai malam hari. Karena pagi hari dia harus fokus ujian, jika sore hari otaknya sudah sangat lelah.
“Permisi!” Sahut seorang perempuan yang memasuki cafe dan seperti biasa Bisma menyambutnya dengan senyuman angelnya. Tapi bedanya, perempuan ini tidak seperti pengunjung cafe perempuanya yang langsung melting di tempat begitu mendapat senyuman seorang Bisma. Wajahnya sangat datar, ketika melihat Rafael barulah dia tersenyum.
Dia duduk di kursi paling ujung. Dan ketika Dicky mendekatinya untuk menanyakan pesanannya dia justru menolak.
“Aku ingin dia yang melayani.” Tunjuknya pada Zizi. Zizi heran, perempuan itu benar-benar aneh. Lalu mendekati perempuan itu.
“Baik, anda mau pesan apa?” Tanya Zizi ramah.
“Aku pesan hot capucino saja.” Jawabnya membalas keramahan Zizi.
“Hanya itu saja?” Tanya Zizi lagi, dan dibalas anggukan dari perempuan itu. “Baiklah, tunggu 15 menit.” Zizi segera berlalu, namun dia kembali ditahan.
“Bisakah aku memintanya menemaniku mengobrol?” Pintanya sambil menunjuk ke arah, Rafael. Zizi melirik ke arah Rafael yang sepertinya mendengar pembicaraan mereka karena cafe ini tidak terlalu besar. Zizi menatap Rafael dengan mata seolah berbicara “sudah-ikuti-saja”. Rafael menurutinya.
Tidak lama kemudian Zizi datang membawa secangkir hot capucino pesanan wanita tadi. Dan sang perempuan mengambilnya sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba saja dia menyiramkan isi cangkir itu ke baju Zizi. Dan.
PLAAK !
“Aww !” Perempuan tadi sukses membuat perut Zizi kepanasan dan membuat pipinya merasakan yang jauh lebih panas. Yang Zizi bingungkan, kenapa ? Apa alasannya ?
Rafael syok! Dia akan bangun berdiri, namun didorong kembali oleh perempuan itu.
“Aku membencimu. Dan ini bayaran untuk rasa sakit hatiku yang kau buat, karena kamu berhasil mendapatkan Rafael !” Cerca sang perempuan membuat Zizi beku.
Perempuan itu menyeringai, mendekati Rafael dan mencium bibir Rafael. Zizi yang melihat hal itu merasa panas, lebih panas dari secangkir hot capucino, dan sebuah tamparan yang membuat pipinya merah. Dia tidak tahan, air matanya berdesakan di pelupuk mata. Zizi memutuskan untuk berlari, keluar. Dia belum pernah memperlihatkan air matanya di depan umum.
Rafael mendorong perempuan yang diketahui bernama Sarah itu. Rafael berlari, keluar cafe untuk mencari Zizi.
“Sarah ! Kamu memang nekat! Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan hah ?! Dia itu bukan Rafa, pacar kamu! Ehm, lebih tepatnya mantan.” Ujar seorang perempuan yang tiba-tiba datang dengan panik dan memarahi Sarah. Sarah terdiam dan menangis, sejadi-jadinya. Dia menyadari bahwa dia sudah gila.
“Ayo pulang!”
“Maaf, mas-mas sekalian. Teman saya membuat kegaduhan.” Tutur teman Sarah itu kepada keempat lelaki tampan yang berubah menjadi lelaki cengok, karena bingung.
^shalina^
Rafael terus mencari Zizi, dia belum menemukannya. Ini sudah malam. Keadaan udara yang dingin membuat Rafael semakin panik. Masalahnya Zizi pergi dengan keadaan sangat berantakan, dan perih.
Rafael menemukan Zizi di sebuah atap gedung, di mana mereka dulu memulai pertengkaran dan merasakan jatuh cinta. Itulah yang dibilang benci jadi cinta.
Zizi terisak sambil merengkuh kedua lututnya. Punggungnya bergetar hebat. Mata Rafael masih dapat melihat dengan jelas kondisi itu. Dia mendekati Zizi dan mendekap tubuh dingin Zizi dari belakang. Menghujani rambut kelam Zizi dengan ciuman. Zizi terkejut, dan langsung memberontak, dia mendorong Rafael membuat Rafael tersungkur.
“Kau datang sebagai atasanku atau kekasihku? ” Tanya Zizi tajam.
“Zizi.” Gumam Rafael sedih, dia sedih melihat keadaan kekasihnya itu.
“Perempuan itu alasan yang tidak dapat kuketahui ?!” Interogasi Zizi pada Rafael yang berusaha mendekati Zizi.
“Iya.”  Desah Rafael lembut mulai membelai rambut sebahu Zizi.
“Bagus!” Zizi mencampakkan tangan Rafael. Dan berlalu meninggalkan Rafael. Jelas, Rafael tidak akan membiarkan kesalahpahaman ini. Dia menangkap tangan Zizi, meminta Zizi berbalik dan mendengarkan penjelasannya.
“Apalagi ?” Tanya Zizi sinis. Rafael langsung mendekap Zizi kepelukkannya.
“Aku mencintaimu. Dan aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Dia itu Sarah, dan aku baru mengetahui sosok bernama Sarah itu tadi. Lima hari setelah kita jadian, seorang perempuan yang mengaku sebagai teman Sarah mendatangiku dan menceritakan padaku semua mengenai Sarah. Dia menganggap aku sebagai mantan kekasihnya yang memiliki muka hampir serupa denganku. Dia depresi karena pacarnya meninggal. Dia menguntitku, dia juga mengetahui bahwa aku menyatakan perasaanku pada seorang perempuan. Dan dia berencana menyakitimu oleh karena itu dia mencarimu.” Rafael menjelaskan semuanya sambil terus mengelus rambut Zizi. Sedangkan Zizi hanya terdiam sambil terus terisak.
“Kamu ngerti ?” Tanya Rafael melepaskan pelukkannya. Zizi hanya mengangguk.
“Kamu mau maafin aku ?” Tanyanya lagi. Zizi mengagguk diiringi senyuman hangat dari Rafael. Rafael mencium kening Zizi lembut dan kembali mendekapnya.
“Lalu apa alasanmu selalu memarahiku ?” Zizi minta penjelasan.
“Kalau untuk yang satu itu aku cuma mengerjaimu.” Jawab Rafael datar, Zizi melepaskan dekapan Rafael namun ditahan oleh Rafael.
“Kau jahat!” Cembutut Zizi memukul tangannya ke bahu Rafael.
“Tapi aku pangeranmu kan?”
“Pede banget.”

From : Shalina Noviarti

One Night Become One Love (me, you, and our class)

Summary      : aku gak tau apa itu cinta. Aku juga gak tau dari mana cinta itu ada. Yang aku tau Cuma rasa dingin. Rasa dingin itu bikin aku sadar akan sesuatu yang disebut cinta. Aku gak tau kenapa kamu bersikap kayak gini ke aku, yang aku tau cuma aku cinta kamu.

Gia Side
15.00
Zzzzzzz… zzzzzzzzz…
“hoaaaam..” hari ini ngantuuuuk banget, apalagi ada pelajaran sejarah. Maksudku, ya.. sejarah itu kayak punya istilah lain.. dongeng.. tepatnya dongeng penghantar tidur. Dan syukurlah, aku berhasil melewati 2 jam pelajaran sejarah. Kebayang gak sih ngantuknya?
“hey girl! Jangan ngantuk dong, hari ini masih ada pelajaran Fisika. Lo tau kan gimana killernya guru itu!” seru bisma. Oh god! Aku baru inget. Ini pelajaran yang paling aku benci setelah sejarah. Sebenernya gak sepenuhnya sih aku benci fisika. Waktu smp, itu pelajaran favorit. Eh waktu sma, ketemu guru yang killer banget.
“oh yeah bradeeeeer (re: brother). You right.” Aku berdiri dan menepuk-nepuk bahunya. Dasat british alay. Aku berlalu untuk ke kamar mandi. Mau ngapain? Mau cuci muka dong.
‘buug!’
“eh, sorry ya.” Ujarku.
“sorry?! Lo liat gak tu! Ipad gue jatoh!” seru Reza. Aku langsung terbelalak kaget. Dasar gia cerobooh!
“ma.. ma.. maaf ya za. Gue bener-bener gak sengaja.” Ujarku sambil memjunguti kepingan-kepingan besi yang tercerai berai dari satu ipad (ngerti gak?).
“huh! Dasar lo!” reza mengabaikan perkataanku dan langsung pergi.
16.00
“anak-anak, kumpulkan catatan kalian. Kita akan ulangan.” Seru Pak Arfan. Haah, gawaat ulangan belom belajar nih.
“gia! Kumpulkan catatan kamu sekarang!” seru pak arfan. Aku langsung tersentak dan langsung menutup catatan ku. Akupun berjalan kedepan untuk mengumpulkan catatanku.
“yang gak lulus, gak boleh pulang. Nginep disini.” Sial kenapa juga sih, guru ini harus mengeluarkan peraturan-peraturan jayus kayak gitu. Bahkan kepala sekolah gak pernah berani ngebantah guru ini.
16.30
udah tiga puluh menit. Aku bener-bener gak tau apa rumusnya. Aduuuh, gimana ini. Ah iya! Aku inget! Waktu itu aku pernah nyatet rumus di kertas. Kalo gak salah sih kertasnya belom aku buang. Aku mulai meraba-raba kertas-kertas yang ada di laciku. Ya! Kertas itu memang ada!.
Ini dia rumusnya. Aku mulai menyalin rumus yang ada. Yeah ternyata kalau ada rumus soal ini mudah juga. Aku melihat ke sekeliling. Reza! Dia nyantai banget, malah main hp pula. Ih gila tu orang.
“oke anak anak kumpulkan kertas jawaban kalian sekarang.” Seru pak arfan. Aku langsung mengumpulkan kertas jawaban ku. Semoga jawabanku benar.
17.00
“oke anak-anak, setelah bapak periksa, ternyata ada yang tidak lulus.” Deg! Jangan-jangan aku lagi yang gak lulus.
“Gia! Kamu bisa tinggal dikelas.” Seru pak arfan. Haaaa! Aku gak lulus.. aku langsung menutup kedua kupingku agar tidak mendengar ejekan teman-temanku.
18.00
Hari udah makin gelap. Kelas udah dikunci, lampu kelas udah mati, tapi ac kelas belom mati. Dingiiiiiin banget. Perlahan-lahan air mataku turun.
“gimana ini huhu.. aku sendirian disini huhu.. oh god huhu.. aku takut huhu..”
“kamu gak sendirian kok”
“tuhkaaan! Huhu.. gue sekarang malah berhalusinasi kalo disini ada orang huhu…” tangisku semakin meledak.
“eh kok malah tambah nangis.” Kulihat sebuah kepala muncul dari bawah meja. Aku langsung terbelalak kaget dan mundur.
“jangan takut, gue ini reza! Liat! gue ini reza!” serunya. Ternyata itu memang reza.
“ngapain kamu disini?” tanyaku.
“ngapain? gue kan gak lulus juga tadi?” ujarnya.
“gak lulus? lo yakin?” tanyaku lagi.
“iya! Serius deh. Liat ini” dia menyodorkan kertas ulangannya. Ada angka 50 besar dengan tinta merah di kertas itu.
“tapi tetep aja! Ngapain coba gue disini sama lo!” seruku.
Hening. Aku salah ngomong ya?
“oke kalo gitu! Bagian depan, bagian lo! Dan belakang wilayah gue!” serunya lalu meninggalkanku.
19.00
”reza.. lo ada jaket gak? Dingin banget nih..” gak ada jawaban.
“gue tau gue salah. Maaf ya.” Masih hening.
“za, masa lo tega sih ngebiarin gue kedinginan” gak ada respon dari reza.
“ZA! LO DENGER GUE GAK SIH!” seruku.
“hah? Lo ngomong apa tadi gi? Gue tadi lagi dengerin musik pake earphone. Sorry” ujarnya.
“nggak guecuma minta maaf ya.” Ujarku pelan.
“haha.. lo ini lucu ya?” dia mulai mendekatiku.
“gue gak marah kok sama lo” dia duduk bersender di dinding. Aku ikut duduk disampingnya.
“oh ya za..”
“apa gi?” tanyanya.
‘krrriuuuuk’ ups! Suara perut aku!.
“lo laper ya?” tanyanya.
“i-iya..” ujarku. Dia meraih tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti.
“ini makan, gue punya dua.” Ujarnya. Akupun mengambil roti di tangannya.
“thanks ya za”
20.00
“lo ngapain sih kayaknya serius banget” tanyaku.
“gue lagi maen game.” Uajrnya.
“game apa?” tanyaku lagi.
“nanti dulu nih gue udah mau menang” ujarnya lagi.
20.30
“za, lo udah menang belom?” tanyaku untuk kesekian kalinya.
“eh, udah kok.” Ujarnya. “gi, lo punya minum gak? Gue haus banget nih..” ujarnya.
“ada kok” ujarku lalu menyodorkan sebotol air mineral.
“makasih ya gi..” dia langsung meminum minuman itu. “oh ya? Kenapa lo gak tidur aja?” tanyanya.
“ehm. Iya lo bener juga, gue udah ngantuk nih..” ujarku.
Reza ternyata gak sepenuhnya seperti yang aku piker. Dia baek banget ternyata. Jadi selama ini aku salah menilai dia dong? Tapi inikan masih permulaan, jangan-jangan nanti.. nanti dia bakalan ‘ngapa-ngapain’ aku lagi! No no no! jangan negative thingking mungkin reza memang baik.
21.30
“gi, lo udah tidur ya?” samara-samar aku mendengar suara orang.
“aduh kasian banget sih gia, posisi tidurnya pasti gak enak tuh” ujar suara itu lagi. Perlahan ada yang memegang kepalaku. Dia reza! Ia meletakkan kepalaku di pundak sebelah kanannya.
“lo belom tidur?” tanyaku dengan suara parau.
“eh gia, belom, gue insom.” Ujarnya gugup.
“makasih ya lo udah baek banget sama gue.” Ujarku.
Reza kenapa lo baeeek banget sama gue? Kenapa? Padahal sebelum ini lo kenal gue aja nggak.
“iya udah, lo tidur lagi aja..” ujarnya.
Oh, this will be my sweetest night
00.30
Bbbbrrrr… bbbbrrrrr… rasanya tubuhku menggigil saking dinginnya.
“re.. zaa… “ gumamku kecil.
“hemm.. kenapa gi?” tanyanya sambil mengusap-usap matanya.
“dingin banget nih..” ujarku.
“sini tangan kamu..” ujarnya. Aku langsung mengulurkan kedua tanganku.
“biar aku bikin tangan kamu hangat lagi ya..” dia menggosok gosokkan tangannya dengan tanganku.
“udah za, aku udah gak kedinginan lagi kok.” Ujarku.
“ya udah sekarang kamu tidur lagi ya.” Ujarnya. Akupun menyenderkan kepalaku di bahunya.
02.00
CUKUP! Aku gak bisa tidur! Satu setengah jam aku nyoba merem biar tidur, eh malah gak bisa tidur. Mikirin rezaaaa melulu. Dia udah over baek sih. Bikin aku berharap sesuatu yang gak mungkin. Mungkin posisi tidur kayak gini bisa bikin aku makin cenat-cenut sama dia. Akupun mengubah posisiku untuk nyender ke tembok.
“kamu kebangun ya gi?” Tanya reza.
“aku.. aku.. aku gak bisa tidur.” Ujarku.
“oh gak bisa tidur.” Ujarnya enteng banget!
“kamu juga kok gak tidur za?” tanyaku.
“harus berapa kali aku bilang aku ini insomnia giaaa” ujarku
“oh iya deng, aku baru inget” ujarku. Dia beranjak dari posisinya. Mau kemana ya dia? Dia ngambil gitar? Buat apa ya? Buat mukul maling? Tapi gak ada maling kok disini.
“jreeengg” dia mulai memainkan gitarnya.
“you know me so well..
Girl I need you..
Girl I love you..
Girl I heart you..” dia mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya.
“taukah kamu saat kita pertama jumpa..
Hatiku berkata padamu ada yang berbeda..
Taukah sejak kita sering jalan bersama..
Tiap jam menit detikku hanya ingin berdua..
Taukah kamu ku takkan pernah lupa..
Saat kau bilang punya rasa yang sama..
Kutak menyangka aku bahagia ingin kupeluk dunia..
Kau izinkan aku tuk dapat rasakan cintaa ” aku mulai terhanyut oleh suara lembutnya.
“you know me so well..
Girl I need you..
Girl I love you..
Girl I heart you..
Tak ada yang bisa
Memisahkan cinta
Waktupun takkan tega
Kau dan aku bersama selamanya” iya betul itu, bahkan aku ingin malam ini lebih lama. Malam ini cukup singkat untuk kita berdua. Aku ingin sama kamu selalu, selamanya..
“kok bengong gi?” Tanya reza
“euh.. nggak” ujarku sedikit gelagapan.
“suara aku terlalu bagus ya?” ujarnya cengengesan.
“ya lumayan sih..” ujarku. “sini gitarnya..” aku meraih gitar di tangannya.
“Aku tersesat Menuju Hatimu
Beri aku Jalan yang indah
Ijinkan ku Lepas penatku
Tuk sejenak lelap di bahumu
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan Kau dan aku
Semoga Cinta Kita Kekal Abadi
Sesampainya Akhir Nanti
Selamanya” lagu ini sebagai permintaan ke dia untuk selalu sama aku.
“suara kamu bagus..”
“oh ya? Thanks” ujarku
“kamu kok baek banget sih sama aku?” tanyaku.
“menurut kamu kenapa?” tanyanya balik.
“entah..”
“aku gak tau kenapa kamu kayak gini ke aku.. yang aku tau, aku…”
“kamu?”
“aku sayang sama kamu” aku tertenduk lega setelah ngomong perasaan aku.
Hening. Sepi. Senyap.
“ya udahlah kamu lupain aja kata-kata aku itu” ujarku gugup. Kayaknya dia marah deh.
“kenapa harus dilupain?” tanyanya
“soalnya..”
“soalnya aku juga sayang sama kamu..” ujarnya.
“serius?”
“aku seius” katanya..
“karena itu aku akan selalu sama kamu.. untuk malam ini.. besok pagi.. selamanya..” ujarnya.
Malam ini hidupku berubah. Semenjak ada dia, hidup ini terasa indah. Hanya aku, dia dan kelas ini.

Seperti apa yang aku bilang, this will be the sweetest night ever. Oh my boy, I’ll be with you always and forever. Couse you are one and only for me. Remember this word for today, tomorrow, and everyday “I heart you”

From : Gia